NASIONALISME, ISLAMISME, DAN MARXISME (Catatan Kuliah)


Latar Belakang Tulisan Soekarno “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”
Komintern II ( Komite Internasional II)
Bertemu di Paris 1924 : Dihadiri Hatta cs dr Belanda sebagai mahasiswa Perhimpunn Indonesia.
Komintern : Badan Internasional yang disponsori oleh
Tahun 1917-19 USSR : Komintern muncul.
Dalam pertemuan-pertemuannya mereka berusaha memerdekakan bangsa-bangsa jajahan kapitalisme.
Pada Komintern II, Hatta cs memasukkan gagasan pembentukan Indoneisa merdeka. Sepulangnya ke Belanda, mereka ditangkap : dianggap sebagai maker terhadap pemerintah Hindia Belanda. Dalam siding, mereka bebas. Ini pengalaman yang melandasi Hatta untuk meyakini bahwa Negara demokratik / sekuler adalah bentuk yang baik dan menolak Negara Islam.
Dari Komintern II, pergolakan komunis disiapkan untuk memerdekakan Indonesia.
Pemeberontakan dilakukan, ditumpas, kaum komunis ditahan. Terjadi konflik yang saling mempersalahkan antara nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Ini latar belakang tulisan Soekarno.

Nasionalisme adalah paham tradisionalisme Jawa. Nasionalisme ini nyata dalam organisasi Budi Utomo. Sebenarnya dia mengekspresikan hasrat hidup orang Jawa yang sebenarnya berusaha menunjukkan bahwa mereka sudah emiliki peradaban atau budaya yang besar dan dapat menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi kehidupan bersama. Dikenal Soekarno dalam budaya hidupnya.
Islemisme. Ini karena dulu ia tinggal di asrama bersama Cokroaminoto
Marxisme dimasukkan oelh Soekarno karena walaupun masih baru, pikiran-pikiran ini mampu diterima banyak oleh kaum muda. Ideologi ini dikenal ketika dia berkuliah.

Semua pikiran ini sebenarnya berakar dari kehidupan Soekarno, (Belasan-1920-an). Dia hendak mengakui bahwa pikiran-pikiran ini adalah paham yang real.

Prinsip gotong royong digunakan Soekarno untuk menyatakan kita harus bekerja sama dan asling melengkapi. Ia juga hendak menyatakan bahwa tujuan kita adalah sama, yakni untuk merdeka. Ia sangat menolak perdebatan nasionalisme, Islamisme dan Marxisme, sebagaimana yang terjadi waktu itu. Soekarno hanya mengatakan bahwa harus terjadi perjumpaan dari pikiran-pikiran ini. Akan tetapi, Soekarno belum tahu akan menjadi seperti apa gabungan pikiran-pikiran itu. Inilah hal menggantung yang ditinggalkan Soekarno. Ia mendasari usaha persatuannya, tanpa memiliki alasan filosofis, hanya berdasar pada alasan pragmatis. (Sayangnya, persatuan ini pun sampai sekarang tidak bisa didamaikan antara pikiran-pkiran itu).

Agama kejawen berbeda dengan animisme orang barat. mereka mengakui bahwa hewan-hewan atau tumbuhan-tumbuhan di alam itu adalah Tuhan. Mereka terpengaruh India dengan budaya Pantheisme.

Sosialisme religius kemungkinan merupakan usaha Soekarno untuk menggabungkan Marxisme dengan agama. (John Tit).

Soekarno menggunakan partai Komunis, bukan karena alasan apa, melainkan karena partai sosialissudah dihancurkan. (Partai Sosialis dibubarkan Soekarno dianggap tidak sejalan lagi dengan pikiran-pikiran Soekarno). Partai Komunias pun sangat aktif dan menolong Soekarno. Akhirnya NasASos diganti NasAKom.

Tahun 1965, Soekarno turun.

Soekarno pernah membuat wasiat, yakni bila ia tidak dapat melanjutkan perjuangan dan harus mati, ia menyerahkan kekuasaan pada Tan Malaka. Saat PKI memberontak, Soekarno berhasil menarik banyak orang untuk lebih memilih Persatuan. Sayang, dalam peristiwa ini Tan Malaka mati. Menurut John Tit, kemungkinan besar wasiat Soekarno mengartikan bahwa ia mengakui Tan Malaka memiliki kemampuan yang lebih tinggi darinya dalam menghadapi kapitalisme yang merebak. Ketika Tan Malaka meninggal, maka tidak ada lagi orang yang dapat dipercaya Soekarno untuk mengambil tampuk pemerintahannya.

Murba adalah Partai sosialis.

Dahulu PPP, juga dianut oleh Kristen dan Katholik. Akan tetapi, setelah agama-agama ini memilih untuk masuk dalam PDI dan Golkar, sehingga yang tinggal di PPP adalah Islam. Seandainya mereka tetap di sana maka kita akan mampu mencegah pikiran yang sektarian. Kesempatan ini yang dilewatkan oleh kita orang Kristen (John A. Tit).

APAKAH PENDETA DAPAT BERPOLITIK? MENGAPA BILA BERPOLITIK MEREKA DIANGGAP MELAKUKAN HAL YANG KOTOR?
Ada beberapa hal mendasar yang diberikan oleh John A. Titaley, yakni:
1. Sistem perpolitikan kita dibangun di atas partai. Tidak bisa tanpa melalui partai.
2. Gereja tidak membuat partai. Jelaslah bahwa jika pendeta harus berpartisipasi secara politik, ia harus memilih partai.
Jika ia masuk dalam partai tertentu, ia harus tunduk pada peraturan partai. Jika tidak, maka ia akan dikeluarkan dari partai. Ia dibatasi kepentingan partai.
3. Pada titik ini, kepentingan gereja tidak dapat disalurkan dalam partai-partai. (Jadi apa salahnya pendeta dikeluarkan sementara dari gereja, bila memang saat itu ia sedang “digarami” oleh partai).
So, panggilan gereja:
Bila tidak dapat membuat partai politik yang menyalurkan semua kepentingan yang diharapkan gereja, maka gereja harus pergi kepada pimpinan dan langsung menyalurkan pendapat, serta hal-hal yang dianggap penting.

Pertanyaan yang timbul, apakah gereja sudah merasa perlu untuk membuat partai?
1. Apakah gereja harus menurukan derajat agama menjadi derajat politik?
2. Bila gereja membuat partai politik, sama dengan memperjuangan kepentingan agama secara politik. Apa yang terjadi bila kalah??

Menurut John Tit, gereja tidak perlu membuat partai politik. Yang kita perjuangkan bukan agama tetapi kualitas kehidupan kemanusiaan lewat partai politik, bukan kepentingan agama. Jadi tidak perlu membuat partai agama, karena akan menghasilkan negara agama.

Gereja = Hati Nurani dari Masyarakat (istilah John Tit, sehingga harus bersih).
Tugas gereja bukan membuat pendetanya masuk dalam dunia politik, tetapi lebih baik bila pendeta dan gereje ini memberi arahan pada umat untuk menjadi penggerak dan arahan politik yang dianggap benar. Banyak warga berpolitik, tetapi tidak memiliki arahan yang tepat.

Mengapa sangat sedikit orang Kristen yang membuat tulisan, terutama yang menyinggung permasalahan politik?
Tulisan pertama mengenai kekristenan dan politik, pertama kali dituliskan oleh Notohamidjojo. Memang sangat sedikit tulisan-tulisan dari kekristenan, yang mampu melihat situasi politik. Gereja dengan sengaja oleh pemerintah Belanda, memang hanya tinggal duduk manis, tinggal dalam tembok gereja, sehingga tidak memiliki pikiran-pikiran politik yang jelas (wajar tidak ada partai politik Kristen pada masa perjuangan dan mereka bergerak keluar dari PPP. Jelas mereka tidak siap untuk duduk bersama-sama menunjukkan keragaman agama untuk berdiri di atas partai PPP yang dimaksud untuk menunjukkan keragaman itu sendiri), juga membuat tulisan-tulisan sebagaimana disebutkan di atas.

Cara menghadapi situasi saat ini
John Tit mengandalkan forum-forum generasi muda, termasuk melalui jalur intelektual universitas untuk mempengaruhi situasi yang terjadi, dan tidak mengikuti “Blue Print” yang ditinggalkan oleh pemerintahan sebelumnya.
Let’s transform our self. Inilah yang harus dilakukan oleh gereja sehingga orang beragama lain mampu menyadari bahwa ternyata gereja (orang Kristen) tidak berusaha untuk menarik mereka ke dalam kekristenan. Kita harus memulai dengan lingkungan kita, bagaimana kita mengharapkan orang lain untuk berubah.

PKI tidak dapat disamakan dengan komunis yang didukung oleh Soekarno (sebagaimana ia mendukung nasionalisme dan Islamisme).
Komunisme memiliki akar pikiran dengan akar pikiran yang sebenarnya mulia. Sayangnya, dicacati oleh stalinisme dari Uni Sovyet dan dari Cina, menjadi tidak menarik. Di Cuba, komunisme Fidel Castro juga berhasil. Harus diingat bahwa Cuba negara yang kecil sehingga menjadi wajar, tetapi sulit untuk terjadi di Cina, Rusia arau Indonesia.

Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme ibarat tiga batu tungku untuk menopang sebuah wadah untuk memasak di atasnya. Hubungan antara ketiganya haruslah berbentuk spiral. Sehingga nanti akan ada nasionalisme 2, Islamisme 2, Marxisme 2, begitu selanjutnya.

Nasionalis (N1)

Islamisme (I1) Marxisme (M1)

STUDY GERTZ, “AGAMA JAWA”
DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN SOSIAL INDONESIA

Menurut Gertz, ada 3 kelompok yang hidup dalam masyarakat Jawa, yakni :
1. Priyayi : kejawen, yang berada di lingkungan keraton.  nasionalisme
2. Abangan : di luar lingkungan keraton.  Marxisme
3. Santri : yakni yang berada di pesantren.  Islamisme

Tujuan tulisan Gertz, budaya Jawa ada dalam 3 kategori ini. Dengan demikian, ini tidak mungkin dihilangkan. Di dalamnya tidak hanya ada konflik, tetapi juga ada penyatuan dalam bebearapa hal. Misalnya, pada saat perayaan lebaran, perayaan 17 Agustus-an (walaupun hanya diresapi di Jawa).

Saat Soekarno mengartikan internasionalisme dengan kemanusiaan, itulah Marxisme Soekarno.

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: